Elshinta Tegal, JAKARTA – Industri perdagangan berjangka komoditi di Indonesia mencatatkan rapor positif sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat yang semakin tinggi terhadap investasi komoditi di tanah air.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Tirta Karma Senjaya, mengungkapkan data capaian tersebut dalam konferensi pers pada Jumat (02/01) siang. Pertumbuhan volume transaksi ini menjadi sinyal kuat resiliensi sektor keuangan non-perbankan.
Capaian Transaksi Mencapai Rp42,867 Triliun
Berdasarkan data resmi Bappebti, total volume transaksi perdagangan berjangka komoditi sepanjang tahun 2025 mencapai angka fantastis, yakni 14,56 juta lot.
Lonjakan volume ini diikuti dengan nilai transaksi yang sangat besar. Tirta Karma Senjaya menyebutkan bahwa total nilai transaksi secara nasional menyentuh angka Rp42,867 triliun.
"Capaian 14,56 juta lot ini mencerminkan dinamika pasar yang sangat aktif dan pengawasan yang semakin baik di sektor perdagangan berjangka," ujar Kepala Bappebti.
Faktor Pendorong Pertumbuhan Investasi Komoditi
Ada beberapa faktor yang diduga kuat menjadi penggerak utama tingginya minat masyarakat di sektor ini sepanjang tahun 2025.
Edukasi dan Perlindungan Nasabah
Bappebti secara konsisten melakukan edukasi mengenai legalitas pialang berjangka. Hal ini membantu masyarakat membedakan antara investasi yang aman dengan skema ilegal yang merugikan.
Digitalisasi Platform Perdagangan
Kemudahan akses melalui aplikasi mobile membuat para investor muda mulai melirik komoditi sebagai aset diversifikasi. Proses transaksi yang cepat dan transparan menjadi kunci utama di tahun ini.
Proyeksi Pasar Berjangka Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, Bappebti optimis bahwa tren positif ini akan terus berlanjut. Penguatan regulasi dan inovasi produk baru diharapkan mampu menarik lebih banyak aliran modal, baik dari domestik maupun mancanegara.
Dengan capaian perdagangan berjangka komoditi yang menyentuh Rp42,867 triliun, Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai pemain utama pasar komoditi di kawasan Asia Tenggara.***
